Lay Zhang Ungkap Alasan Terima Tawaran Film Women’s Soccer dari Stephen Chow

M. Mujibburohim
Lay Zhang Ungkap Alasan Terima Tawaran Film Women’s Soccer dari Stephen Chow
Photo via Weibo Movie.
A-AA+A++

Overseasidol.com — Aktor dan penyanyi asal Tiongkok, Lay Zhang, membagikan pengalaman menariknya saat pertama kali bertemu sutradara legendaris Stephen Chow di Festival Film Cannes 2026.

Dalam wawancara tersebut, Lay mengaku sangat gugup dan emosional ketika akhirnya bisa bertemu sosok yang selama ini begitu ia kagumi.

Menurut Lay, pertemuan itu terjadi secara tidak terduga. Ia mengatakan reaksinya sama seperti kebanyakan orang yang bertemu Stephen Chow untuk pertama kalinya.

Baginya, sosok Stephen Chow atau yang akrab disapa “Xing Ye” memiliki aura yang sangat besar di dunia perfilman Asia.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Stephen Chow hanya menceritakan sebuah kisah inspiratif selama sekitar lima menit.

Namun cerita sederhana itu justru langsung membuat Lay tertarik untuk ikut terlibat dalam proyek film terbaru sang sutradara berjudul Women’s Soccer.

Lay mengungkapkan bahwa setelah mendengar cerita tersebut, dirinya langsung berkata kepada Stephen Chow, “Bisakah saya mencoba ikut bermain?” Dari momen itu, kerja sama keduanya pun akhirnya terwujud.

Ia juga membahas pengalamannya selama proses syuting film tersebut. Menurut Lay Zhang, Stephen Chow memiliki dua sisi yang sangat berbeda saat bekerja.

Di satu sisi, sang sutradara bisa menjadi sosok yang hangat dan ramah. Namun di sisi lain, Stephen Chow juga dikenal sangat disiplin dan perfeksionis saat mengarahkan para pemain.

Aktor tampan ini bahkan menggambarkan Stephen Chow sebagai “guru sekaligus ayah yang tegas” di lokasi syuting.

Meski demikian, ia merasa banyak belajar dari pengalaman bekerja bersama salah satu ikon perfilman Hong Kong tersebut.

Selain membahas film Women’s Soccer, ia juga sempat menyinggung pandangannya mengenai perkembangan teknologi AI dalam industri kreatif.

Ia menilai AI memang dapat membantu proses produksi dan menciptakan karya, tetapi menurutnya AI tetap sulit menggantikan “hati dan jiwa” manusia dalam sebuah karya seni.

Related

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *