Overseasidol.com — Industri hiburan tengah diguncang kontroversi setelah sebuah platform video daring iQIYI mengumumkan peluncuran “Perpustakaan Artis AI”.
Langkah ini memicu reaksi keras publik, terutama setelah pernyataan kontroversial platform tersebut yang menyebut bahwa “syuting film oleh aktor manusia di masa depan bisa menjadi warisan budaya tak benda (non-material cultural heritage)”.
Pernyataan ini langsung viral di media sosial dengan tagar yang mencerminkan kekecewaan warganet, bahkan melabeli kebijakan tersebut sebagai langkah “gila”.
Respon cepat datang dari para aktor papan atas seperti Yu Hewei, Zhang Ruoyun, Li Yitong, dan Wang Churan.
Mereka secara tegas membantah telah memberikan otorisasi penggunaan wajah dan persona mereka untuk teknologi AI, menegaskan bahwa nilai seni peran terletak pada emosi nyata manusia.
Meskipun kemajuan teknologi memungkinkan AI menciptakan efek visual yang memukau hingga ekspresi mikro yang tampak nyata, penolakan publik tetap tidak terbendung karena tiga alasan utama.
Pertama, pernyataan platform yang menyamakan syuting nyata dengan “warisan budaya” dianggap sebagai penghinaan terhadap profesi perfilman dan menunjukkan ketidakpahaman terhadap makna budaya itu sendiri.
Kedua, penonton mulai meragukan aspek autentisitas dalam karya seni di tengah gempuran teknologi.
Ketiga, skema di mana aktor hanya perlu memberikan lisensi citra untuk mendapatkan bayaran tanpa harus berakting dianggap merusak semangat kerja keras dan mencederai keadilan bagi para aktor berbakat lainnya yang tengah berjuang membangun karier.
Keajaiban sinema seringkali terletak pada binar mata dan spontanitas seorang aktor yang menciptakan momen ikonik tak terlupakan.
Karakter legendaris seperti tatapan tajam Mama Rong saat memegang jarum atau karisma elegan Zhuge Liang saat mengayunkan kipas adalah bukti seni yang memiliki jiwa.
Jika industri beralih sepenuhnya ke “aktor digital”, penonton hanya akan disuguhi produk industri yang standar namun dingin dan hampa akan kemanusiaan.
Sebagaimana kritik tajam dari para penggemar, mereka mencintai idola karena karakter dan keunikan manusiawinya, bukan karena produk robotik hasil kecerdasan buatan.







Tidak ada Respon