Selain itu, fenomena “fan economy” juga menjadi perhatian serius.
Adaptasi danmei yang sukses secara komersial mendorong banyak pihak untuk memproduksi karya serupa secara massal, yang pada akhirnya memicu persaingan tidak sehat dan praktik pemasaran agresif seperti “shipping” pasangan aktor hingga konflik antar fandom.
Kondisi ini dianggap bertentangan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan ekosistem hiburan yang lebih sehat dan kondusif.
Dari sisi budaya, kebijakan ini juga berkaitan dengan arah estetika dan nilai sosial yang ingin dijaga.
Pemerintah menekankan pentingnya representasi yang dianggap sesuai dengan norma arus utama, termasuk dalam hal penggambaran karakter dan hubungan sosial.
Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa kebijakan ini tidak secara langsung menargetkan orientasi seksual tertentu, melainkan fokus pada pengelolaan konten dan dampaknya terhadap masyarakat luas.
Meskipun demikian, konten berbentuk novel atau karya tulis masih memiliki ruang untuk berkembang, selama tetap mematuhi aturan yang berlaku.
Pembatasan lebih difokuskan pada media dengan jangkauan luas seperti televisi, platform streaming, dan audio visual lainnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa China tidak sepenuhnya melarang konten BL, melainkan berusaha mengatur penyebaran dan komersialisasinya agar tetap berada dalam batas yang dianggap aman dan sesuai dengan kebijakan budaya nasional.
Meski Tiongkok membatasi perkembangan drama BL, berbagai adaptasi drama danmei dengan dua pemain utama pria dialihkan dengan cerita persahabatan atau bromance.
Banyak rumah produksi yang mengalihkan pembuatan drama BL ke negara bagian Tiongkok seperti Hong Kong dan Taiwan.







Tidak ada Respon